Guide

Gudmoning blog dingin tak berpengunjung sesepi dan sedingin winter tahun ini. 

Saya mau sedikit bercerita dan berbagi pengalaman tentang profesi seorang “guide”. Sebenarnya profesi saya bukanlah guide. Kebetulan saya sudah bertahun tahun tinggal di negeri tinggi peminat wisata nya ini membuat saya menjadi seorang pekerja part time jadi guide. Ngga mw membahas panjang lebar tentang profesi saya, lansung saya membahas grup yang saya “guide” minggu ini.

Sekitar seminggu yang lalu saya dihibungi seorang teman “kakak kelas”. Menawari saya untuk menjadi guide 6 orang dokter dari Indonesia. Mereka ada tujuan “kengaku” atau kunjungan ke salah satu rumah sakit di tokyo. Berhubung juga lagi tanggal merah, dan saya libur kantor saya mau menjadi guide mereka. 

Awalnya saya cuma mengira menjadi guide aja, tapi kata teman saya, tolong booking in hotel sama tolong carikan mobil carteran dan juga susun agenda perjalanan mereka selama di tokyo. Laaah?? Berarti saya menjadi agen tour dadakan. Saya pun berusaha mencari sewa mobil dan mencari hotel yang strategis dan tidak terlalu “mahal” dalam takaran dirupiahkan. Saya susun semua itenerary mereka selama di tokyo beserta semua anggaran yang diminta. 

Awalnya terjadi beberapa perubahan. Dan ini sudah sesuai dengan buget perjalanan standar d jepang. Dan transaksi pun terjadi. Saya dan teman saya dan teman saya berhubungan dengan pihak yang meminta dia untuk membuat plan tersebut. Dan orang itu sama sekali tidak saya kenal. Awalnya semua biaya itu akan mereka transfer lansung ke saya. Sehingga saya bisa membayar bookingan hotel dan carteran mobil sekalian. Tapi entah kenapa tidak jadi di transfer ke rekening saya. Akan dibawa cash oleh salah satu rombongan yang akan datang.

Tanggal 22 desember sampailah mereka di tokyo, di jemput ke bandara dan di antar sampai ke hotel. Hari tu berhubung saya kerja, tidak bisa jemput mereka ke bandara. Saya minta tolong pada teman yg jemput ke bandara. Dan mulai lah beberapa masalah terjadi. 

Sampai hari terakhir tanggal 26 mereka kembali, ngga ada mood saya buat “melayani” mereka. Satu hal yang saya ambil pelajaran dari sini. Orang indonesia itu paling suka “nge-Boss”. Ngga salah ketika saya bercerita ke kantor kalau orang Indonesia selalu punya pembantu di rumah nya baik itu buat masak atw sekedar tukang cuci dan ngasuh anak. Teman kantor saya selalu tercengang mendengar hal tersebut.

Itu saya sadari ketika menemani para dokter petinggi rumah sakit ini datang berkunjung ke tokyo. Dan. Orang indonesia cuma mau enak nya aja. Mungkin ngga semua nya juga sih, tapi sebagian besar menurut saya seperti itu. 

Nanti saya sambung lagi cerita tentang guide ini. Kerjaan kantor saya masih numpuk ๐Ÿ˜œ *ditimpuk bos

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s